Rabu, 22 Oktober 2014

Pacaran Sehat, Gimana Tuh?

Akhir-akhir ini ada istilah yang beredar dikalangan remaja yakni pacaran yang sehat. Sebenarnya pacaran yang sehat itu yang bagaimana sih? Apa benar ada pacaran yang sehat.
Silahkan Anda beri komentar di kolom komentar dibawah post ini dan jangan lupa tulis nama, kelas, nomor absen dan komentar yang Anda kemukakan. Paling lambat hingga hari Selasa (28 Oktober 2014).Selamat belajar dan smoga sukses!

Sabtu, 09 November 2013

HAUL SESEPUH DESA TAMBAKSUMUR 2013

Bunga Kamboja di areal makam mbah Zaenal Abidin Tambaksumur menjadi saksi acara ziarah makam sesepuh desa Tambaksumur Waru Sidoarjo. Acara Haul ini juga diisi dengan kegiatan khotmil quran, khitanan massal, pawai TPQ, tahlil Akbar dan pengajian KH Mas Subadar dari Pasuruan.
 

Senin, 28 Januari 2013

Drs. Amiruddin, M.Pd.I, Andalan Cabang Sidoarjo: Upgrade Skill Pembina Pramuka

Drs. Amiruddin, M.Pd.I


Kegiatan pramuka yang selama ini diajarkan di sekolah-sekolah ke anak didiknya seolah hanya berlatih tepuk tangan, menyanyi dan tali temali. Anggapan yang demikian ini kerap mengakibatkan penolakan orang tua siswa bila anaknya minta ijin mengikuti kegiatan kepramukaan.
Dengan berbagai macam dalih, orang tua seringkali melarang anaknya untuk ikut aktif  berlatih pramuka karena mengikuti kegiatan pramuka tiada guna manfaatnya. Secara fakta, ada sebagian Pembina pramuka yang hanya sekedar mengajarkan ke adik-adik bimbingannya menyanyi, tepuk tangan dan tali temali. Materi kegiatan yang monoton dan tidak mengikuti perkembangan jaman atau tidak up to date inilah yang menjadikan kegiatan pramuka perlahan-lahan mulai ditinggal peminatnya.
Banyak faktor yang melatarbelakangi tapi ada satu hal yang patut dicermati dan diberi perhatian khusus yakni kemampuan Pembina yang langsung berhadapan dengan siswa atau adik-adiknya. Selama ini, pramuka yang aktif berlatih hingga tingkat penggalang atau penegak, seringkali menjadi Pembina bagi adik-adiknya di tingkat siaga.
Materi yang diberikan ke adik-adik siaga adalah materi yang selama ini mereka terima dari pembinanya bukan dari pelatihan atau kursus mahir. Karena merasa diri mampu untuk menularkan pengetahuannya maka mereka berani memberikan pembinaan pramuka di tingkat siaga.
Keadaan ini ditunjang oleh ketidakpedulian Kamabigus atau Kepala Sekolah yang bersangkutan terhadap keberadaan kegiatan pramuka di sekolah yang dipimpinnya. Dan yang terjadi, pembina pramuka ini diangkat tidak dari kalangan pramuka yang sudah terdidik melainkan asal comot. Guru yang jam mengajarnya kurang, seringkali ditunjuk sebagai Pembina pramuka.
Kalaupun dari kalangan pramuka tetapi kalau tidak pernah mengikuti pelatihan atau kursus mahir maka kemampuan kepramukaannya tidak akan berkembang. Apalagi menjelang kurikulum 2013 nanti yang rencananya pramuka masuk menjadi mapel ataupun ekstrakurikuler yang wajib, tidak semua sekolah akan menjadi gugus depan (gudep).
Mengingat kedepannya, pramuka ini akan diadakan akreditasi dan sertifikasi. Akreditasi ini berhubungan dengan pangkalan dimana pramuka ini ada yakni sekolah sebagai gugus depan. Serta adanya sertifikasi Pembina, penguasaan ketrampilan kepramukaan saja belum bisa diakui sebagai Pembina yang professional kalau belum mendapat pengakuan secara formal dari pengurus kwarnas.
Akreditasi gudep dan sertifikasi Pembina inipun menggunakan bantuan teknologi canggih atau berbasis IT. Sehingga diharapkan, sebagai seorang Pembina pramuka bukan sekedar menguasai ketrampilan kepramukaan saja melainkan juga menguasai IT. Seorang Pembina pramuka bukan hanya mengajarkan tepuk tangan, menyanyi ataupun tali temali tetapi juga bisa menghadirkan suatu pembinaan pramuka yang baru. Bisa menggunakan power point ketika memberikan pembinaan ke adik-adiknya.
Gairah untuk selalu memperbaiki metode pembinaan pramuka juga harus selalu dilakukan Pembina. Diantaranya dengan melalui forum musyawarah pembina yang disebut karang pamitran dan forum musyawarah pelatih yang bernama pitaran pelatih. Juga yang tak kalah pentingnya yakni dengan melakukan regenerasi pembina dan pelatih.
Kesemua upaya ini diharapkan akan bisa meningkatkan minat siswa terhadap kegiatan pramuka dan lebih efektif serta berdayaguna. YUS    

Minggu, 27 Januari 2013

DR. Suparti, Ketua UPBJJ Universitas Terbuka Jember: Master Teacher Konsisten dan Bertujuan Mulia

DR. Suparti

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan menerapkan kurikulum baru pada Juni 2013 nanti. Persiapannya, Kemendikbud melatih 350 ribu master teacher selama 6 bulan. Selama 6 bulan ini dipakai untuk pelatihan-pelatihan dengan menciptakan master teacher. Tentu saja master teacher ini dipilih beberapa orang berkualifikasi memadai untuk dijadikan masternya itu.
Kurikulum 2013 ini nanti salah satunya mencakup rencana menerapkan konsep master teachers (semacam Guru Master atau bisa juga Guru Utama). Master teachers inilah yang akan menjadi ujung tombak Kemdikbud dalam melatih guru-guru agar siap menjalankan kurikulum baru tersebut. Guru-guru berprestasi dan memiliki skill atau kemampuan mengajar yang baik akan dilatih terlebih dahulu untuk kemudian menyampaikan ilmu yang didapat kepada guru yang lain.
Mengapa ada master teacher? Kurikulum baru ini menggunakan scientific approach, mengutamakan kemampuan bertanya dan nalar menjadi proses penting, obyek pengamatannya adalah fenomena alam dan fenomena sosial. Nilai yang ditanamkan dalam kurikulum ini adalah nilai jujur, disiplin, bersih, kecintaan terhadap lingkungan, dan nilai ke-Indonesiaan.
Jika konsep tersebut benar diterapkan, untuk melatih guru nantinya tidak lagi bergantung pada kalangan perguruan tinggi. Tetapi, guru akan dilatih oleh guru-guru sendiri yang disebut master teacher. Master teacher, adalah guru yang dianggap memiliki kelebihan di atas rata-rata guru lainnya, antara lain dalam bentuk wawasan, pengetahuan, prestasi dan lain-lain.
Master teacher nanti diambilkan dari guru, kepala sekolah, atau pengawas yang memiliki prestasi akademik dan pembelajaran yang bagus. Contohnya para guru teladan atau mereka yang pernah mendapatkan penghargaan nasional atau internasional. Sehingga, semua guru terbaik di Indonesia berkesempatan untuk ikut seleksi.
Alangkah baiknya, sosialisasi tentang master teacher ini harus sampai ke sekolah dan guru yang ada dipelosok negeri sekalipun. Master teacher tetap harus didisain dengan benar. Karena dengan adanya master teacher, terbuka peluang bagi guru, kepala sekolah, pengawas untuk berkompetensi dan dapat mengimplementasikan langsung kompetensinya. Dengan demikian, gelar dan penghargaan guru teladan, guru ideal, atau pun guru berprestasi tidak berhenti sebatas penghargaan di atas kertas. Ataupun sebatas seremonial saja tanpa ada tindak lanjutnya.
Pemanfaatan kompetensi ini akan sangat bermanfaat bagi guru-guru yang ada di daerah masing-masing dengan adanya master teacher.
Apalagi, pada kenyataannya masih banyak guru teladan atau guru berprestasi yang belum dapat berkiprah langsung karena kendala birokrasi di daerahnya sendiri. Dengan harapan, seleksi master teachers tentunya benar-benar memperhatikan kompetensi dan prestasi  yang pernah diraih calon peserta, sehingga tujuan utama dan mulia dibentuknya master teacher dapat tercapai.
Adanya master teacher dengan melibatkan guru yang kompeten akan sangat mendukung sistem peningkatan mutu pendidikan. Syaratnya, kesempatan seleksi dibuka seluas-luasnya bagi setiap guru untuk bisa mengikutinya.
Seleksi juga benar-benar dilaksanakan secara obyektif, bukan karena faktor “kedekatan” tertentu atau ‘ada permainan’. Syarat lainnya, harus memperhatikan portofolio prestasi calon peserta seleksi. Keberadaan master teacher ini juga bakal menjadikan kualitas pelatihan guru akan lebih baik.  
Tujuan Mulia
Setidaknya, master teacher bukan orang lain bahkan orang asing yang baru saja dikenal oleh guru-guru peserta pelatihan. Ada kedekatan secara psikologis antara master teacher dengan guru-guru yang dilatihnya. Guru peserta pelatihan akan lebih leluasa dan enjoy bertanya atau sharing dengan master teacher yang sesama guru.
Suka duka pengalaman mengajar di kelas, menghadapi anak dengan berbagai karakter akan dengan mudah terkomunikasikan dengan baik manakala master teachernya berprofesi sama. Dengan kata lain, kemampuan intelektual master teacher tidaklah cukup untuk menjadi pembimbing teman seprofesinya. Ketrampilan berkomunikasi juga harus menjadi pertimbangan yang matang saat perekrutan master teacher.
Ada tiga hal yang penting dalam pelatihan guru ini adalah materi pelatihan, target guru yang dilatih, dan metode pelatihan yang digunakan. Semua materi harus tepat sasaran dan berdayaguna. Dan sebisa mungkin program ini berkelanjutan bukan sekedar pelengkap kurikulum baru tapi lebih diperhatikan peningkatan kualiatas diri dan profesi bagi yang  menjalaninya. Salah satu tujuan konsep master teacher ini adalah untuk menumbuhkan rasa percaya diri guru, dan memotivasi guru  untuk berprestasi.
Sehingga guru-guru yang akan dipilih untuk mengikuti pelatihan menjadi master teacher tidak hanya berasal dari kota besar, tetapi juga dari tingkat kabupaten. Adanya control yang ketat dari Kemendiknas tentang hasil dari pelatihan ini. Yang nantinya, hasil pelatihan bisa dijadikan jaminan untuk membangun pendidikan yang lebih baik dan tentu saja untuk tujuan mulia.YUS



Sabtu, 26 Januari 2013

Workshop PTBK MGBK Se-Jatim di WTCe Wonosalam

Peserta workshop foto bersama nara sumber dan panitia. (foto:yupiter)


Sebagai upaya meningkatkan profesionalisme anggota Musyawarah Guru Bimbingan Konseling (MGBK) se-Jawa Timur, MGBK Sidoarjo bekerja sama dengan STIE Perbanas Surabaya menyelenggarakan workshop.
Workshop tentang Penelitian Tindakan Kelas Bimbingan Konseling (PTK BK) ini berlangsung di wana wisata Wonosalam Training Center (WTCe) Wonosalam Jombang berlangsung Jumat-Sabtu, 25-26 Januari 2013. Selain 40 anggota MGBK Sidoarjo, workshop kali ini diikuti oleh perwakilan MGBK seluruh kabupaten di Jawa Timur.
Sebagai pembicara dan pembimbing dalam workshop PTK BK ini adalah Dr. Suparti, ketua UPBJJ Universitas Terbuka Jember. “Nara sumber ini sangatlah kompeten dan ahli di bidang penelitian, terutama karya tulis ilmiah dan penelitian tindakan kelas,” ungkap Drs. Widjahjono, MM., selaku ketua MGBK Sidoarjo sekaligus penggagas acara ini pada PENA.
Materi workshop yang diberikan Dr. Suparti, Sistem Penulisan Karya Ilmiah, Pengembangan Profesi Guru Melalui Karya Tulis Ilmiah dan Menyusun Proposal Penelitian. Dengan lincah dan komunikatif, Dr. Suparti membawakan materi serta mengajak peserta workshop untuk menyenangi sekaligus mau melaksanakan penelitian.
Disela-sela menyajikan materi, peserta diajak diskusi tentang materi PTK serta berbagi pengalaman di sekolah. Dan sebagai bentuk ucapan terima kasih atas partisipasi peserta yang berdiskusi dengan nara sumber, pihak Perbanas memberikan bingkisan. 

Selasa, 22 Januari 2013

Terapi SEFT untuk Meningkatkan Motivasi Belajar


Dorongan untuk belajar pada diri pelajar seringkali naik turun, begitu juga yang dialami siswa-siswi SMAN 1 Panarukan Situbondo. Dari hasil observasi dan penelitian Drs. Achmadi, salah seorang guru BK SMAN 1 Panarukan mendapatkan hasil bahwa delapan dari 159 peserta didiknya kelas XI mengalami penurunan motivasi belajar.

Sebagai seorang konselor, Drs. Achmadi terpanggil untuk memberikan bantuan layanan kepada ke delapan anak didiknya tadi agar motivasi belajarnya kembali tinggi. Achmadi menggunakan terapi SEFT untuk meningkatkan motivasi belajar anak didiknya tadi. Pada tanggal 21 Januari 2013 lalu upaya untuk menerapi delapan anak didiknya dilakukan di ruang PAS.
Dengan bantuan seorang terapis atau SEFTer, Yupiter Sulifan, S.Psi dari Surabaya, Achmadi berhasil membantu anak didiknya untuk membangkitkan motivasi belajarnya. Dengan terapi SEFT dua putaran, kedelapan anak didiknya mengalami ‘pencerahan’. Kebanykan dari anak didik ini mengatakan setelah di terapi selain badan makin segar juga pikiran, perasaan makin lebih baik dari sebelum diterapi. 

Sabtu, 19 Januari 2013

Sosialisasi BIDIK MISI 2013 di Smanita


Tahun 2013 ini merupakan tahun pemerataan pendidikan bagi semua warga Negara Indonesia. Bila beberapa tahun yang lalu, hanya warga yang berekonomi mampu sajalah yang bisa meneruskan kuliah tapi kini warga yang berada dibawah garis kemiskinan juga berhak mendapatkan pendidikan yang layak atau kuliah.
Dengan program BIDIK MISI maka siswa miskin diberi hak yang sama untuk bisa mengenyam pendidikan di bangku perguruan tinggi negeri. “PTN manapun dan jurusan apapun, dengan program BIDIK MISI ini siswa miskin bisa memilihnya,” tutur Dessy Dwi Nikitasari mahasiswa jurusan Sosiologi Unair yang ikut program BIDIK MISI saat memberikan sosialisasi tentang BIDIK MISI 2013 di SMAN 1 Taman, 19 Januari 2013.
Dessy yang juga alumni SMAN 1 Taman (Smanita) ini memaparkan kalau program BIDIK MISI terbuka untuk siswa yang perekonomiannya pas-pasan. “Artinya, total penghasilan orang tua dibagi jumlah orang yang menjadi tanggungan di rumah itu dan hasilnya maksimal hanya Rp. 600 ribu,” jelas Dessy sebagai koordinator tim sosialisasi BIDIK MISI 2013 di Smanita dengan membawa personil enam mahasiswa yang kesemuanya juga dari program BIDIK MISI.
Dihadapan sekitar 300 siswa kelas 12 program IPA dan IPS, Dessy juga menjelaskan tentang berbagai hal yang berkaitan dengan Universitas Airlangga Surabaya.