Minggu, 27 Mei 2012

Profil Peraih Nilai Unas SMA IPS Tertinggi se Jawa Timur


Anggita Naluriza Rahmawati, Siswi SMAN 1 Taman Peraih NUN Tertinggi IPS Se-Jawa Timur:
Pengin Jadi Akuntan
Tahun 2012 bisa dibilang tahun emas bagi dunia pendidikan di Sidoarjo. Betapa tidak, ditahun inilah para pelajar SMA-nya menorehkan tinta emas dibidang Nilai Ujian Nasional (NUN) baik tingkat propinsi maupun nasional. 
3
Kedua siswinya berhasil meraih peringkat pertama di program IPS se-Jawa Timur, dialah Anggita Naluriza Rahmawati, siswi SMAN 1 Taman dengan nilai UN 57,20. Sedangkan Fajrin Pradita Wina siswi SMAN 1 Sidoarjo meraih peringkat II dengan nilai 58,45 untuk program IPA. Bahkan ditingkat nasional dalam kategori seluruh program jurusan, Fajrin Pradita Wina juga berhasil menduduki peringkat kelima.
Begitu juga, ketiga siswa lainnya Kiki Agrivita Safitri, Winda Amalia Herdianti keduanya dari SMAN 1 Sidoarjo serta Gifari Zulkarnaen dari SMAN 1 Taman juga masuk dalam daftar 20 besar peraih nilai UN 2012 se-Indonesia. Ini membuktikan p pelajar tingkat SMA sederajat Sidoarjo ternyata tidak bisa dipandang sebelah mata. Pasalnya, mereka telah mampu mengukir prestasi pada Ujian Nasional (UN) 2012 dengan nilai yangmemuaskan.
2
Jadi Akuntan
1
Nilai tertinggi hasil Ujian Nasional (Unas) jurusan IPS se-Jawa Timur diraih Anggita Naluriza Rahmawati, siswa SMAN 1 Taman Sidoarjo. Anggita siswa kelas 12 IPS 3 ini meraih nilai Unas 57,20.
Mengaku suka mata pelajaran matematika dan akuntasi, Anggita bercita-cita menjadi akuntan setelah lulus perguruan tinggi nanti.Dia mengaku tidak punya resep belajar secara khusus.
"Belajar biasa saja. Jelang Unas ya banyak otak atik soal-soal Unas," ucap  Anggita yang beralamat rumah di Perumahan Graha Permata Sidorejo Indah F-20 di Desa Sidorejo Kecamatan Krian.
Awalnya Anggita mengaku belum tahu nilai Unas yang dicapainya. Dia hanya diberitahu Kepala Sekolah SMAN 1 Taman, Drs. H. Panoyo, M.Pd.,  melalui hubungan telepon, pukul 14.00 WIB.

"Saya kaget tiba-tiba pak Panoyo telepon tanya-tanya alamat rumah saya segala," ucap Anggita dengan mata berbinar saat ditemui PENA di sekolahnya. Saat itu (ketika ditelepon Kepala Sekolah SMAN 1 Taman) Anggita sempat galau, malah takut kalau ada apa-apa dengan nilai UN-nya. “Tapi, alhamdulillah malah hasil terbaik yang saya dapatkan,” ujar cewek yang murah senyum ini.  
4
Anggita juga belum percaya jika hasil Unas-nya disebut-sebut menduduki urutan teratas nilai Unas IPS se-Jawa Timur. Meski demikian, dia mengaku sangat bersyukur dengan nilai Unas yang diraihnya. 
"Ya kaget campur senang,"cetus anak kedua pasangan Djoko Wuriatno (almarhum) dan Dra. Suryawati ini. Saat hari Senin (28/05) melihat langsung nilai Unasnya di sekolah barulah dia percaya kalau nilainya memang benar-benar tinggi. “Alhamdulillah, ini semua tak luput dari bimbingan bapak ibu guru serta doa bunda yang selama ini selalu memberi dukungan mental bagi saya,” tutur Anggita yang tak henti-hentinya berucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas prestasi yang diraihnya ini.
Apa rencana Anggita setelah lulus Unas SMA ini? Dia mengaku sedikit kecewa manakala mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) jalur undangan tidak diterima di dua PTN yang dipilihnya. Lewat jalur itu, Anggita memilih Universitas Negeri Surabaya dengan memilih jurusan Akutansi dan Universitas Airlangga dengan memilih jurusan Ekonomi Pembangunan.
Kenapa memilih dua jurusan itu? Anggita mengaku bercita-cita ingin menjadi akuntan saat lulus perguruan tinggi kelak. Sejak duduk di bangku SMP, dia bercita-cita jadi akuntan dan suka dengan mata pelajaran matematika. 
5
Karena jalur undangan tidak diterima, Anggita akhirnya mengikuti SNMPTN jalur ujian tulis dan dia sangat berharap bisa diterima dijalur ujian tulis ini. Minat dan niat Anggita untuk bisa  masuk ke jurusan ini sudah didamba sejak dulu.
"Karena itu meski saat kenaikan kelas XI bisa masuk jurusan IPA, dia lebih memilih jurusan IPS karena ada pelajaran akutansi-nya," imbuh Suryawati, bunda Anggita yang menjadi guru di SMA Hang Tuah 1 Surabaya.
Alumni SMPN 1 Taman ini mengaku apa yang diraihnya tidak terlepas dari peran bundanya yang selalu rajin memberikan motivasi agar Anggita meraih yang terbaik. "Guru-guru juga ikut andil dengan hasil yang saya raih ini," tandasnya.
The Best Ten
Tatkala nama Anggita Naluriza Rahmawati masuk dalam peringkat teratas peraih NUN SMA jurusan IPS, hampir semua bapak ibu guru pendidiknya tidaklah heran. Mengapa? Karena Anggita sudah dikenal sebagai murid yang pandai dikelasnya. “Hampir setiap semester , Anggita ini menduduki peringkat 10 besar dan terbukti dia bisa masuk SNMPTN jalur undangan,” tutur Fatma Mustati’ah,S. Pd., wali kelas Anggita di kelas 12 IPS 3.
Selain pintar, Anggita bisa dibilang murid yang cenderung pendiam. “Walau pendiam, Anggita ini murid yang cepat akrab dengan orang yang baru dikenalnya juga murah senyum,” kata Endang Darwati, S.Pd., guru Bimbingan Konseling Anggita di kelas 12 ini.
Mengetahui siswanya ada yang berprestasi di tingkat propinsi dan nasional, kepala SMAN 1 Taman, Drs. H. Panoyo, M.Pd., mengaku senang, bangga dan bersyukur. “Saya yakin ini merupakan ahsil kerja keras kami serta kegigihan Anggita dalam menuntut ilmu. Dan tak lupa ini juga barokah doa yang dipanjatkan baik dari guru-guru, orang tua juga Anggita sendiri. Alhamdulillah kami bisa memberi warna indah di tingkat propinsi,” urai Drs. H. Panoyo, M.Pd. YUS


Data Pribadi
Nama                           : Anggita Naluriza Rahmawati
Nama akrab                 : Anggita
Tempat tanggal lahir   : Sidoarjo/23 Januari 1994
Anak ke 2 dari 2 bersaudara
Nama Ayah                 : Djoko Wuriatno (alm)
Nama Ibu                    : Dra. Suryawati
Alamat            rumah   : Perumahan Graha Permata Sidorejo Indah F-20 di Desa Sidorejo
Kecamatan Krian    
Cita-cita                      : Akuntan
Prestasi                        : Peringkat I Peraih NUN SMA IPS tertinggi se Jawa Timur 57,20
Nilai UN                     : Bahasa Indonesia : 9,80; bahasa Inggris: 9,20; Matematika: 10; Ekonomi: 10; Sosiologi: 9,60; Geografi: 8,60.
Hobi                            : Membaca

Caption:
1.      Anggita bersama Dra. Suryawati (ibu, kiri) dan Drs. H. Panoyo, M.Pd. (Kepala SMAN 1 Taman/kanan)
2.      Anggita bersama bunda tersayang.
3.      Anggita berfoto dengan Fatma Mustati’ah, S.Pd.
4.      Anggita saat melihat kelulusan di sekolah.
5.      Anggita berfoto dengan guru Bimbingan Konseling. (foto-foto:Yupiter Sulifan)

Minggu, 20 Mei 2012

Desain Pelatihan Psikologi


Dinamika

Pelatihan Desain Psikologi di MADUWA
Salah seorang peserta sedang mengajak teman-temannya
berjoget dalam permainan Follow the Star
Aktifitas belajar di sekolah seringkali membuat jenuh siswa, untuk itulah guna memberikan penyegaran kepada peserta didiknya, pihak Madrasah Aliyah Darul Ulum Waru (Maduwa) bekerja sama dengan Program Pasca Sarjana Magister Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya mengadakan acara Outbond.
Outbond yang dilaksanakan pada tanggal 12 Mei 2012 bertempat di lingkungan kampus Maduwa ini dikhususkan untuk siswa kelas IX yang terdiri dari enam kelas (2 kelas IPA dan 4 kelas IPS). “Dalam kegiatan outbound yang masuk dalam salah satu mata kuliah desain pelatihan psikologi ini seluruh siswa peserta akan dibangkitkan enam aspek dalam kepribadiannya,” ujar Diah Sofiah, S.Psi.,M.Psi., Psikolog selaku ketua rombongan dari Untag 45 Surabaya kepada PENA. Rombongan Untag 45 Surabaya yang dating dalam acara pelatihan psikologi ini berjumlah 40 mahasiswa pasca sarjana dan tiga dosen pendamping.
Keenam aspek kepribadian yang diungkap lewat outbond kali ini yakni motivasi berprestasi, komunikasi, kerjasama tim, kepercayaan diri, kepemimpinan dan kreatifitas. Masing-masing kelas akan mendapatkan pelatihan psikologi yang dipandu oleh satu kelompok mahasiswa yang terdiri dari enam mahasiswa.
Acara yang berlangsung 07.30 hingga 11.30 ini sangat semarak, baik pelatihan di dalam ruangan maupun di luar ruangan. Bahkan ketika jam berakhir banyak peserta pelatihan yang mengenakan seragam olahraga ini minta ditambah lagi permainannya. “Memang pelatihan psikologi kali ini terbanyak berupa permainan-permainan baik fun game, ice breaking ataupun permainan outbond itu sendiri,” bu Deden sapaan akrab Diah Sofiah.
Diakhir acara, pihak Untag 45 Surabaya memberikan kenang-kenangan berupa vandel, bola voli dan buku yang berisi kumpulan bahan-bahan pelatihan psikologi ini. Drs. Syaifulloh Umar selaku wakil kepala MA Darul Ulum Waru menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua mahasiswa yang sudi mengadakan pelatihan psikologi di lembaga pendidikan yang dipimpinnya ini. “Kami sangat berharap kerjasama ini tidak berhenti sampai disini saja melainkan akan terus berlanjut dan setiap tahun kami siap menerima kunjungan mahasiswa dari Untag 45 ini,” tutur Syaifulloh Umar saat memberikan kata sambutan diupacara penutupan acara ini. YUS
Caption: Salah seorang peserta pelatihan sedang memimpin teman-temannya berjoget dalam permainan Follow The Star. (foto:Yupiter Sulifan)

         
Diah Sofiah, S.Psi.,M.Psi., Psikolog, Dosen Pasca Sarjana Magister Psikologi Untag 45 Surabaya:
Sesuaikan dengan Perkembangan Kognisi Anak
Selama ini sering kita mendengar tentang outbound. Terutama istilah outbound ini sangat popular dikalangan sekolah. Sejak anak playgroup hingga siswa lanjutan atas sudah banyak mengenal outbound.
Banyak mungkin orang yang pernah mendengar kata outbound namun tidak cukup banyak yang memahami makna tentang outbound itu sendiri, kata outbound berasal dari padanan dua suku kata dalam bahasa Inggris, Out dan Bounderes yang berarti keluar dan batas. Sehingga dalam pengertian yang sesungguhnya outbound itu ialah keluar dari semua rutinintas sehari-hari agar dapat melihat diri kita dan team dari prespektif yang berbeda sehingga diharapkan bernilai positif dalam meningkatkan kinerja dan efektifitas aktifitas perorangan maupun kelompok dan terjadi kolaburasi yang solid dalam kerja team building dalam suatu wadah organisasi.
Outbound training berasal dari kata outbound dan training, maka sebelum mendefinisikan outbound dan outbound training, sebelumnya akan dibahas mengenai pengertian training.
Training berasal dari bahasa Inggris yang berarti pelatihan. Namun lebih jelasnya, pemahaman tentang training adalah sebagai berikut: 1. Mengembangkan pemahaman, pengetahuan, dan keterampilan; 2. Diberikan secara instruksional baik indoor maupun outdoor; 3. Objeknya seseorang atau sekelompok orang; 4. Sasarannya untuk memberikan pemahaman, pengetahuan, dan keterampilan kepada audience sesuai dengan kebutuhannya;
5. Prosesnya mempelajari dan mempraktekkan dengan menuruti prosedur sehingga menjadi kebiasaan; 6. Hasilnya terlihat dengan adanya perubahan, tepatnya perbaikan cara kerja di tempat kerja.
Dari pengertian tersebut, didapatkan informasi bahwa training bertujuan mengembangkan pemahaman, pengetahuan, dan keterampilan. Hal ini sangat senada dengan tujuan pendidikan untuk mengembangkan potensi, sehingga training juga merupakan suatu proses pembelajaran.
Outbound merupakan singkatan dari out of boundaries, yang apabila diterjemahkan bebas menjadi menembus batas. Adapula yang mendefinisikan secara per kata yaitu dari kata out yang artinya keluar, dan bond yang artinya ikatan, sehingga definisi outbond ialah keluar menuju alam bebas dan saling punya keterikatan, baik dengan alam maupun rekan dalam satu team.
Bahkan ada beberapa lembaga outbound training, mendefinisikan outbound training sebagai kegiatan pelatihan sekaligus rekreasi yang dilaksanakan di alam terbuka, yang terdiri dari serangkaian permainan (games) dan tantangan (challenge). Masing-masing permainan memiliki tujuan tertentu.
Ada beberapa tahapan-tahapan dalam pembelajaran outbound training adalah sebagai berikut:
1. Pembentukan pengalaman; 2. Perenungan pengalaman; 3. Pembentukan konsep; 4. Pengujian konsep. Dari beberapa tahapan tersebut, dapat disimpulkan bahwa dalam outbound training juga menyampaikan materi secara mendalam, dan mengupayakan para audience juga dapat menyerap materi melalui tahapan-tahapan tersebut. Maka proses pembelajaran dalam outbound training menanamkan siswa belajar dengan membentuk pengetahuannya sendiri, yang dikenal dengan pendekatan konstruktivisme dalam pembelajaran sehingga akan terjadi proses pembelajaran dimana siswa mengembangkan potensinya sendiri seperti yang dikehendaki definisi pendidikan dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 1.
Namun sebelum outbound training dilakukan, tentunya harus dilakukan penyelidikan tentang materi yang diperlukan audience, kemudian menyusun kurikulum dan permainan yang dapat disesuaikan dengan goal dari outbound tersebut. Hal ini identik dengan kegiatan merancang perencanaan pembelajaran. Sehingga terjadi pembelajaran yang efektif dari outbound training tersebut. Disamping itu, jika materi yang disampaikan adalah matematika, maka akan terjadi pembelajaran matematika dalam outbound training tersebut.
Namun outbound training sendiri dalam penerapannya memiliki karakteristik penyajian yang berbeda dari proses pembelajaran biasanya. Program pelatihan psikologi (yang membawahi salah satunya outbond ini) disusun sebagai berikut: 1. Perkenalan dan peregangan (stretching); 2. Ice Breaking; 3. Penjelasan Program; 4. Perencanaan (planning); 5. Pelaksanaan Kegiatan (action); 6. Refleksi (reflection) dan evaluasi (evaluation); dan 7. Pelaporan (reporting).
Bahkan, bila outbond ini dilakukan oleh psikolog maka akan didahului oleh pretest dan post test tentang kebutuhan yang diperlukan peserta sebelum outbond dilakukan. Ini bertujuan untuk memfokuskan jenis permainan yang sesuai dengan kebutuhan peserta outbond. Dengan kata lain walau itu berupa permaianan belaka hal ini bisa memberikan efek atau dampak yang sangat baik bagi peserta didik karena sesuai dengan kebutuhannya.
Hanya saja selama ini sering terjadi pembelokan tentang makna outbound itu sendiri dalam pelaksanaannya. Ada beberapa penyelenggara pelatihan outbond ini tidak memperhatikan umur biologis pesertanya. Mengapa umur biologis ini sangat diperhatikan? Karena hal ini akan sangat mempengaruhi kognisi seorang peserta pelatihan.
Bila keadaan kematangan kognisi seseorang belum siap menerima materi outbond maka pelatihan ini akan sia-sia. Idealnya, outbound dengan materi yang tergolong berat ini diberikan mulai siswa sekolah lanjutan pertama (SMP). Sedangkan untuk anak playgroup dan sekolah dasar cukup diberikan permainan yang sifatnya fun game. Karena kharakteristik mereka adalah segala sesuatunya itu terkait dengan bermain dan bersenang-senang untuk itulah materi outbound sebaiknya diberikan berupa fun game. YUS
Caption: Diah Sofiah, S.Psi.,M.Psi., Psikolog

Selasa, 15 Mei 2012

Jenis Majas dan Contohnya


Majas adalah bahasa kias, bahasa yang dipergunakan untuk menciptakan efek tertentu. Dalam penggunaannya, majas diciptakan untuk menimbulkan kesan imajinatif bagi penyimak atau pembicaranya. Untuk lebih memahami tentang majas berikut kami sampaikan jenis-jenis majas beserta contohnya :

  1. Paradok. Adalah gaya bahasa yang mengemukakan hal yang seolah-olah bertentangan, namun sebenarnya tidak karena objek yang dikemukakan berbeda. Contoh : Dia besar tetapi nyalinya kecil.
  2. Oksimoron. Adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan dengan mempergunakan kata-kata yang berlawanan dalam frasa yang sama. Contoh : Keramah-tamahan yang bengis
  3. Asosiasi atau Simile. Adalah gaya bahasa yang membandingkan suatu dengan keadaan lain yang sesuai dengan keadaan yang dilukiskannya. Contoh : Pikirannya kusut bagai benang dilanda ayam
  4. Metafora. Adalah gaya bahasa yang membandingkan suatu benda tertentu dengan benda lain yang mempunyai sifat sama. Contoh : Jantung hatinya hilang tiada berita
  5. Alegori. Adalah gaya bahasa yang membandingkan kehidupan manusia dengan alam. Contoh : Iman adalah kemudi dalam mengarungi zaman.
  6. Parabel. Adalah gaya bahasa parabel yang terkandung dalam seluruh karangan dengan secara halus tersimpul dalam karangan itu pedoman hidup, falsafah hidup yang harus ditimba di dalamnya. Contoh : Cerita Ramayana melukiskan maksud bahwa yang benar tetap benar
  7. Personifikasi. Adalah gaya bahasa yang mengumpamakan benda mati sebagai makhluk hidup. Contoh : Hujan itu menari-nari di atas genting
  8. Alusi. Adalah gaya bahasa yang menghubungkan sesuatu dengan orang, tempat atau peristiwa. Contoh : Kartini kecil itu turut memperjuangkan haknya
  9. Eponim. Adalah gaya dimana seseorang namanya begitu sering dihubungakan dengan sifat tertentu, sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan suatu sifat tertentu sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan sifat itu. Contoh : Hellen dari Troya untuk menyatakan kecantikan.
  10. Epitet. Adalah gaya bahasa yang menyatakan suatu sifat atau ciri yang khusus dari seseorang atau sesuatu hal. Contoh : Lonceng pagi untuk ayam jantan.
  11. Sinekdoke - Pars Pro Tato. Adalah gaya bahasa yang menyebutkan sebagianhal untuk menyatakan keseluruhan. Contoh : Saya belum melihat batang hidungnya - Totem Pro Parte. Adalah gaya bahasa yang menyebutkan seluruh hal untuk menyatakan sebagian. Contoh : Thailand memboyong piala kemerdekaan setelah menggulung PSSi Harimau
  12. Metonimia. Adalah gaya bahasa yang menggunakan nama ciri tubuh, gelar atau jabatan seseorang sebagai pengganti nama diri. Contoh : Ia menggunakan Jupiter jika pergi ke sekolah
  13. Antonomasia. Adalah gaya bahasa yang menyebutkan sifat atau ciri tubuh, gelar atau jabatan seseorang sebagai pengganti nama diri. Contoh : Yang Mulia tak dapat menghadiri pertemuan ini.
  14. Hipalase. Adalah gaya bahasa sindiran berupa pernyataan yang berlainan dengan yang dimaksudkan. Contoh : ia masih menuntut almarhum maskawin dari Kiki puterinya (maksudnya menuntut maskawin dari almarhum)
  15. Ironi. Adalah gaya bahasa sindiran berupa pernyataan yang berlainan dengan yang dimaksudkan. Contoh : Manis sekali kopi ini, gula mahal ya?
  16. Sinisme. Adalah gaya bahasa sindiran yang lebih kasar dari ironi atau sindiran tajam. Contoh : Harum bener baumu pagi ini
  17. Sarkasme. Adalah gaya bahasa yang paling kasar, bahkan kadang-kadang merupakan kutukan. Contoh : Mampuspun aku tak peduli, diberi nasihat aku tak peduli, diberi nasihat masuk ketelinga
  18. Satire. Adalah ungkapan yang menertawakan atau menolak sesuatu.
Contoh : Ya, Ampun! Soal mudah kayak gini, kau tak bisa mengerjakannya!
  1. Inuendo. Adalah gaya bahasa sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenarnya. Contoh : Ia menjadi kaya raya karena mengadakan kemoersialisasi jabatannya
  2. Antifrasis. Adalah gaya bahsa ironi yang berwujud penggunaan sebuah kata dengan makna sebaliknya, yang bisa saja dianggap sebagai ironi sendiri, atau kata-kata yang dipakai untuk menangkal kejahatan, roh jahat, dan sebagainya. Contoh : Engkau memang orang yang mulia dan terhormat
  3. Pun atau Paronomasia. Adalah kiasan dengan menggunakan kemiripan bunyi. Contoh : Tanggal satu gigi saya tinggal satu
  4. Simbolik. Adalah gaya bahasa yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan benda-benda lain sebagai simbol atau perlambang. Contoh : Keduanya hanya cinta monyet.
  5. Tropen. Adalah gaya bahasa yang menggunakan kiasan dengan kata atau istilah lain terhadap pekerjaan yang dilakukan seseorang. Contoh : Untuk menghilangkan keruwetan pikirannya, ia menyelam diri di antara botol minuman.
  6. Alusio. Adalah gaya bahasa yang menggunakan pribahasa atau ungkapan. Contoh : Apakah peristiwa Turang Jaya itu akan terulang lagi?
  7. Interupsi. Adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata atau bagian kalimat yang disisipkan di dalam kalimat pokok untuk lebih menjelaskan sesuatu dalam kalimat. Contoh : Tiba-tiba ia-suami itu disebut oleh perempuan lain.
  8. Eksklmasio. Adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata seru atau tiruan bunyi. Contoh : Wah, biar ku peluk, dengan tangan menggigil.
  9. Enumerasio. Adalah beberapa peristiwa yang membentuk satu kesatuan, dilukiskan satu persatu agar tiap peristiwa dalam keseluruhannya tanpak dengan jelas. Contoh : Laut tenang. Di atas permadani biru itu tanpak satu-satunya perahu nelayan meluncur perlahan-lahan. Angin berhempus sepoi-sepoi. Bulan bersinar dengan terangnya. Disana-sini bintang-bintang gemerlapan. Semuanya berpadu membentuk suatu lukisan yang haromonis. Itulah keindahan sejati.
  10. Kontradiksio Interminis. Adalah gaya bahasa yang memperlihatkan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang telah dikemukakan sebelumnya. Contoh : semuanya telah diundang, kecuali Sinta.
  11. Anakronisme. Adalah gaya bahasa yang menunjukkan adanya ketidak sesuaian uraian dalam karya sastra dalam sejarah, sedangkan sesuatu yang disebutkan belum ada saat itu. Contoh : dalam tulisan Cesar, Shakespeare menuliskan jam berbunyi tiga kali (saat itu jam belum ada)
  12. Okupasi. Adalah gaya bahasa yang menyatakan bantahan atau keberatan terhadap sesuatu yang oleh orang banyak dianggap benar. Contoh : Minuman keras dapat merusak dapat merusak jaringan sistem syaraf, tetapi banyak anak yang mengkonsumsinya.
  13. Resentia. Adalah gaya bahasa yang melukiskan sesuatu yang tidak mengatakan tegas pada bagian tertentu dari kalimat yang dihilangkan. Contoh : “Apakah ibu mau….?”

     

Sabtu, 28 April 2012

Anak Berbakat : Dianggap Murid Nomor Dua

Dr. Abdul Muhid, M.Si.: Dianggap Murid Nomor Dua
Dr. Abdul Muhid, M.Si.

Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta orang menurut taksiran konvensional memiliki empat juta warga yang dapat dikategorikan sebagai ‘berbakat luar biasa’. Dari empat juta ini paling tidak satu juta anak dan remaja termasuk berbakat akdemik. Ada serangkaian pertanyaan yang diajukan untuk menyikapi fenomena ini. Ke mana saja mereka ini? Macam pelayanan pendidikan apa yang mereka peroleh ? Berapa dari mereka yang dapat mengenyam program pendidikan anak berbakat ? Siapa yang menjadi guru-guru mereka ? Dari mana dana untuk program anak berbakat diperoleh ?
Untuk dapat mewujudkan potensinya secara optimal setiap peserta didik membutuhkan program pendidikan yang berdiferensiasi, sesuai dengan bakat dan kemampuan masing-masing, termasuk mereka yang berbakat akademik. Bagaimana menyelenggrakan program pendidikan tersebut bergantung dari kondisi dan kebutuhan setempat, antara lain kondisi social-budaya, kondisi sekolah, tenaga pengajar, sarana-prasarana pendidikan, orang tua dan sebagainya.
Sejauh mana ada kebijakan tentang pendidikan anak berbakat? Indonesia termasuk enam negara yang mempunyai kebijakan (mandate) nasional tentang pelayanan pendidikan anak berbakat, yaitu dalam Undang-Undang Pendidikan Republik Indonesia nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN 1989) Pasal 8 ayat (2) : bahwa “Warga Negara yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa berhak memperoleh perhatian khusus”. Hal ini dipertegas pada Pasal 24 ayat (1) bahwa setiap peserta didik pada suatu satuan pendidikan mempunyai hak “mendapat perlakuan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya”, dan ayat (6) “menyelesaikan program pendidikan lebih awal dari waktu yang ditentukan”. Hal ini berarti bahwa akselerasi seharusnya dimungkinkan. Kenyataan menunjukkan bahwa tidak semua sekolah memberi kesempatan ini. Walaupun ditinjau dari segi kebijakan nasional Indonesia termasuk Negara yang ‘maju’, tetapi dalam realitas kebijakan tidak diikuti implementasinya.
Mengenai jenis pelayanan yang diberikan, Indonesia termasuk negara yang memberi pelayanan konseling pada siswa berbakat, tetapi di Indonesia pembelajaran awal (early learning) tidak diberikan. Pemberian pelayanan konseling pun hanya terbatas pada beberapa sekolah yang mempunyai guru yang memiliki keahlian konseling anak berbakat. Sekarang dibeberapa tempat, terutama kota-kota besar sudah ada kelompok bermain untuk anak umur dua-tiga tahun, tetapi kurikulumnya tidak khusus untuk anak yang berkemampuan luar biasa.
Setidaknya ada tiga macam layanan pendidikan khusus yang bisa diberikan ke anak berkebutuhan khusus ini: Model inklusi (inclusion model); Tracking System; Cluster grouping model (model pengelompokan terbatas).
Model Inklusi: dalam model layanan ini, anak-anak berbakat ditempatkan sekelas (inklusif) dengan anak-anak lain, termasuk anak-anak penyandang kebutuhan pendidikan khusus lainnya seperti anak berkesulitan belajar (learning disabled) dan anak cacat. Guru yang telah memperoleh pelatihan khusus dalam bidang keberbakatan memberikan perhatian khusus kepada anak-anak berbakat ini agar kebutuhan pendidikan khususnya terpenuhi. Layanan khusus itu terutama berupa pemberian materi pengayaan. Dalam model ini, anak berbakat sering difungsikan sebagai tutor bagi anak-anak lain.
Tracking System: dalam tracking system, siswa-siswa diklasifikasikan berdasarkan kemampuannya, dan setiap klasifikasi ditempatkan dalam satu kelas yang sama. Jadi, anak-anak berbakat akan berada dalam kelas khusus siswa berbakat sepanjang masa sekolahnya.
Cluster grouping model (model pengelompokan terbatas): dalam model ini, anak-anak berbakat dari semua tingkatan kelas yang sama di satu sekolah (biasanya mereka yang termasuk 5% dari siswa berprestasi tertinggi dalam populasi tingkatan kelasnya), dikelompokkan dalam satu kelas. Kelompok tersebut terdiri dari 5 sampai 8 siswa berbakat, dibimbing oleh seorang guru yang telah memperoleh pelatihan dalam mengajar anak-anak berkemampuan luar biasa.  Jika terdapat lebih dari 8 anak berbakat, maka mereka dikelompokkan ke dalam dua atau tiga cluster group. Pada umumnya, satu cluster group itu belajar bersama-sama dengan anak-anak lain dari berbagai tingkat kemampuan, tetapi dalam bidang keluarbiasaannya (misalnya matematika), mereka belajar secara terpisah.
Model cluster grouping ini mempunyai beberapa keuntungan dibandingkan dengan apabila anak-anak berbakat itu didistribusikan secara merata di semua kelas.
Pertama, anak berbakat itu memperoleh perhatian khusus untuk pengembangan bidang-bidang kemampuan luar biasanya, dan sekaligus juga tetap memperoleh keuntungan dari belajar bersama dengan anak-anak dari berbagai tingkatan kemampuan lainnya.
Kedua, pengaturan waktu untuk mempersiapkan bahan-bahan khusus untuk anak berbakat akan lebih efisien bila anak-anak itu berada dalam satu kelompok.
Ketiga, siswa-siswa berbakat akan dapat lebih memahami dan menerima kenyataan bahwa mereka mempunyai "kelainan" dalam belajarnya jika di dalam kelasnya ada anak lain yang seperti mereka.
Sedikitnya terdapat 3 strategi utama dalam pembelajaran anak berbakat khusus ini, yaitu
  1. Akselerasi (accelleration); dalam strategi akselerasi dapat dilakukan pendekatan berikut ini: Masuk sekolah di usia lebih muda (early entrance); Sekolah mengijinkan anak berbakat untuk masuk kelas 1 SD pada usia yang lebih muda dibandingkan usia standar karena secara akademis intelektual memiliki kemampuan itu. Hal yang patut diperhatikan dalam pendekatan ini adalah sejauh mana kematangan emosional anak tsb untuk mampu bergaul dengan mereka yang lebih tua usianya. Lompat kelas (Grade Skipping);
    Anak berbakat diberi kesempatan untuk lompat kelas sehingga secara keseluruhan dapat menyelesaikan pendidikan lebih cepat. Perkembangan Berkelanjutan (Continous Progress);
    Sekolah memberi kesempatan pada anak-anak berbakat untuk melanjutkan pelajarannya untuk subjek-subjek tertentu mendahului teman-teman sekelasnya secara berkelanjutan tanpa harus menunggu teman-temannya ataupun mengikuti standar kelas yang ada.
  2. Pengayaan (enrichment); pendekatan kedua adalah pengayaan (enrichment), secara garis besar sekolah mengadakan program pembelajaran yang berbeda atau memberi kesemptan untuk memperdalam bidang studi tertentu di luar jam pelajaran. Guru dapat memberikan pembelajaran yang berbeda kepada anak-anak berbakat dengan cara memberi tugas yang lebih kompleks yang menuntut cara berpikir tinggi dan pemecahan masalah. Berbagai pendekatan praktis berikut ini dapat dilakukan oleh sekolah untuk membantu anak-anak berbakat, yaitu: Program khusus (Pull-out Programs); Program Suplemen; dan Menyediakan Mentor.
  3. Diffrensiasi (differentiation): Keberbakatan dalam diri anak-anak berbakat memang membutuhkan pembedaan dari sisi bahan pelajaran, proses pembelajaran dan hasil akhir yang dapat dituntut dari mereka. Sekolah dapat melakukan insiatif-inisiatif berikut ini, antara lain: Kurikulum yang dibuat kompak (Compacting Curriculum); Pengelompokan berdasarkan Kemampuan; Pengelompokan yang Fleksibel; Grup Kluster (Cluster Grouping); dan Individualisasi.
Prosedur untuk memasukkan anak ke program pendidikan anak berbakat ini pada umumnya mengikuti empat langkah dasar: Rujukan (referral); Asesmen; Seleksi; dan Penempatan. Rujukan didasarkan atas pertimbangan guru, nominasi orang tua, nilai raport, skor tes kelompok, atau gabungan hal-hal tersebut. Asesmen mencakup penetapan tingkat kemampuan anak yang dirujuk berdasarkan serangkaian tes, yang pada umumnya mencakup pengukuran inteligensi, tes prestasi, atau tes pemecahan masalah. Seleksi dilakukan hanya setelah anak diasesmen dan dinyatakan berpotensi memiliki keberbakatan dan tingkat kemampuannya sudah ditetapkan.
Adapun pendanaan untuk program pendidikan anak berbakat secara nasional, Indonesia (walaupun masih sangat terbatas, yaitu untuk proyek anak berbakat, pemberian beasiswa, sarana-prasarana, dan lain-lainnya) secara local bantuan dana di Indonesia juga dapat diperoleh dana berasal dari pihak swasta.
Dimana pelayanan pendidikan diberikan? Pelayanan pendidikan diberikan di beberapa sekolah pemerintah (walaupun masih jauh dari optimal), di sekolah-sekolah swasta (jumlahnya belum banyak) dan di pusat-pusat pengembangan bakat dan minat. Sejak tahun 90-an Pemerintah mendorong pendirian sekolah-sekolah unggul, sedapat mungkin di setiap provinsi dan berasrama. Namun konsep sekolah unggul ini belum jelas: apakah yang unggul siswanya (berprestasi tinggi, berpontensi tinggi atau keduanya?) ataukah sekolahnya (sekolah bermutu dengan kelengkapan sarana dan prasarana pendidikan dan guru-guru yang kompeten)?
Walaupun masih ada sekolah yang menganggap aneh kepada anak yang mempunyai bakat khusus. Seringkali pula pihak sekolah memberi label anak berbakat khusus dengan label anak abnormal yang sekolahnya tidak pantas dikumpulkan dengan anak-anak normal lainnya. Padahal bukan tidak pantas atau tidak bersekolah bersama dengan anak-anak normal lainnya melainkan bagaimana sekolah memberikan layanan pendidikan khusus bagi anak seperti ini.
Program khusus untuk pendidikan anak berbakat ini dibuat karena anak-anak berbakat mempunyai kebutuhan pendidikan khusus. Anak-anak ini telah menguasai banyak konsep ketika mereka ditempatkan di satu kelas tertentu, sehingga sebagian besar waktu sekolah mereka akan terbuang percuma. Mereka mempunyai kebutuhan yang sama dengan siswa-siswa lainnya, yaitu kesempatan yang konsisten untuk belajar bahan baru dan untuk mengembangkan perilaku yang memungkinkan mereka mengatasi tantangan dan perjuangan dalam belajar sesuatu yang baru. Akan sangat sulit bagi anak-anak berbakat ini memenuhi kebutuhan tersebut bila mereka ditempatkan dalam kelas yang heterogen.
Anggapan miring tentang anak berbakat khusus ini tak jarang kita temui karena kurangnya pemahaman mereka akan anak yang mempunyai bakat khusus. Menurut beberapa ahli, anak gifted itu merefleksikan interaksi diantara ketiga klaster ciri-ciri kepribadian, yaitu: Kemampuan umum dan spesifik di atas rata-rata, Task-commitment (motivasi) yang tinggi, dan Tingkat kreativitas yang tinggi.
Siswa gifted dan talented itu akan memperlihatkan kemampuan untuk mengembangkan kombinasi ketiga klaster tersebut dan menggunakannya untuk berbagai wilayah potensi yang berharga pada performansinya. Bisa juga disebutkan bahwa siswa gifted adalah siswa yang memiliki kemampuan untuk menunjukkan performansi yang tinggi yaitu dengan menunjukkan prestasi dan atau potensi dalam wilayah manapun yang merupakan kombinasi dari: (a) kemampuan intelektual umum, (b) bakat akademik yang spesifik, (c) berfikir kreatif atau produktif, (d) kemampuan leadership, (e) kemampuan visual dan seni yang tinggi, dan (f) kemampuan psikomotor.
   Sukses tidaknya dalam mendidik anak-anak berbakat khusus ini bergantung pada niat baik semua pihak, baik pemerintah, keluarga serta masyarakat. Mengingat mereka adalah satu potensi besar yang sudah dimiliki negara ini dan tinggal bagaimana kita bisa mengelola potensi ini untuk kemajuan bersama. YUS  
Foto: Dr. Abdul Muhid, M.Si
Dosen Program Studi Psikologi & Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya
Dosen Pascasarjana Magister Psikologi Univ. 17 Agustus 1945 Surabaya
Doktor di Bidang Psikologi Pendidikan dari Universitas Negeri Malang
Penelitian Disertasinya tentang “Perilaku Underachieving Anak Berbakat”

Makna Gotong Royong di Sekolah

H. Mashlihan, S.Ag., M.Ag., Kepala SMP Arditama Waru: Tertuang dalam Kontrak Kerja
H. Mashlihan, S.Ag., M.Ag.

Arti gotong-royong secara sederhana adalah berarti kerjasama. Begitu banyak sisi kehidupan yang berlandaskan gotong-royong. Bahkan sebuah bangsa yang akhirnya terbentuk, adalah hasil dari sebuah gotong-royong skala besar dalam aspek nan kompleks. Dalam sebuah negara, sebuah bangsa bersatu-padu bahu-membahu menyumbangkan jiwa dan raganya, pemikiran dan karyanya bahkan impiannya, menjadi sebuah tujuan bersama yang secara garis besar antara lain; mempertahankan kedaulatan wilayah, meningkatkan kesejahteraan bersama serta membentuk identitas kolektif. Gotong-royong dalam konsep sebuah negara-bangsa berujung pada menanggung semua resiko yang terjadi secara kolektif dan adil. Pendek kata, gotong-royong dalam konsep negara-bangsa adalah sebuah kebersamaan di dalam kesejahteraan maupun di dalam penderitaan secara berkeadilan
Filosofi dan semangat gotong-royong inilah yang sejak dulu diusung rakyat Indonesia dalam berbangsa. Bahwa gotong-royong pada akhirnya adalah perilaku dan budaya hidup tradisional yang sekaligus menjadi identitas bangsa Indonesia. Keluhuran nilai-nilai gotong-royonglah yang telah mampu menyelamatkan negara-bangsa ini dari berbagai masalah, mulai dari melepaskan diri atas penjajahan sampai pada menemukan jalan keluar dari berbagai krisis di jaman modern. Negara-bangsa yang kini terwariskan kepada kita semua di Indonesia saat ini, adalah hasil dari sebuah gotong-royong tak henti-henti dari para pendiri bangsa dan seluruh lapisan warga bangsa sampai di akhir hayat mereka.
Gotong royong merupakan salah satu ciri khas bangsa Indonesia khususnya, sebagaimana yang tertuang dalam Pancasila yaitu sila ke- 3 “Persatuan Indonesia”. Perilaku gotong royong yang telah dimiliki Bangsa Indonesia sejak dahulu kala. Gotong royong merupakan kepribadian bangsa dan merupakan budaya yang telah berakar kuat dalam kehidupan masyarakat. Gotong royong tumbuh dari kita sendiri, prilaku dari masyarakat.
Gotong royong adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama dan bersifat suka rela agar kegiatan yang dikerjakan dapat berjalan dengan lancar, mudah dan ringan.
Pergeseran Perilaku
Ironisnya, ketika negara-bangsa Indonesia telah maju seperti sekarang ini, perilaku, filosofi serta semangat gotong-royong justru dibiarkan memudar. Setidaknya, gotong-royong kini berubah menjadi sebuah pengertian yang sangat sempit, hanya sampai pada kulit tetapi tidak berisi apa-apa. Dalam praktek keseharian, bangsa ini sekarang jelas-jelas hanyalah merupakan sebuah kumpulan dari warga yang  individualistis.
Hampir bisa dilihat, kini semua seolah bisa diselesaikan dengan uang. Jadi yang terpenting sekarang adalah bagaimana tiap-tiap orang bisa mengumpulkan materi semampu-mampunya, lalu setiap persoalan diatasi dan diselesaikan dengan transaksi dan negosiasi yang berujung pada uang. Pembangunan berbagai sarana publik, pembangunan berbagai tempat ibadah, pemeliharaan lingkungan, semua diselesaikan dengan tawar-menawar ongkos.
Saat ini betapa sulitnya mengumpulkan warga masyarakat untuk bekerja bakti membersihkan got misalnya. Setiap orang punya alasan tidak punya waktu karena mereka harus bekerja. Mereka jauh lebih merasa bahagia membayar iuran untuk membeli alat pemotong rumput dan mengupah seseorang untuk membersihkan got daripada turun bersama-sama mengerjakan hal tersebut secara bergotong-royong. Semangat komunal yang melandasi prinsip dan perilaku gotong-royong terkalahkan oleh ideologi baru bahwa “waktu adalah uang”.
Bagaimana sikap gotong royong didalam lembaga pendidikan?
Perlahan namun pasti, sikap gotong royong di dunia pendidikan juga terimbas dan bergeser. Walau tidak semua lembaga pendidikan mengalami pemudaran sikap dan perilaku gotong royong tapi hal ini wajib dengan cepat dibenahi serta diantisipasi.
Gerakan kerja bakti massal setiap bulan ataupun ketika akan peringatan hari besar agama ataupun nasional yang dilakukan oleh seluruh keluarga besar sekolah serta saling mengingatkan untuk memelihara lingkungan bersih dan sehat di sekitar sekolah, ini adalah sebagian kecil perilaku gotong royong yang dilakukan di sekolah.
Sikap gotong royong di SMP Arditama Waru sangat kental, baik guru, karyawan, maupun siswa sudah terbiasa. Bagi guru dan karyawan ketika pertama kali kontrak kerja ada penekanan pada masalah gotong royong. Mengingat budaya ini merupakan karakter yang harus ditumbuhkembangkan di sekolah. Guru dan karyawan harus memberi contoh kepada siswa ini dibuktikan ketika ada event sekolah yang memerlukan kerja bareng, misalnya akreditasi, PHBI dan PHBN atau kalau ada kunjungan dari pihak lain.
Para siswapun demikian ketika awal MOS sudah ditekankan sikap tersebut melalui materi wawasan wiyata mandala serta dalam aktifitas pembelajaran sehari-hari anak dibiasakan bergotong royong. Hal ini sudah tertanam dalam pelajaran agama dan PKn juga siswa aktif menerapkan 7K. Mengenai kendala, hampir tidak ada karena sikap gotong royong sudah sejalan dengan visi misi dan tujuan sekolah.
Bagi lembaga pendidikan yang dikelola pihak swasta atau yayasan, seringkali terlihat perilaku gotong royong terutama ketika mengadakan pembangunan atau perluasan tempat belajar. Atau saat dilakukan penambahan fasilitas sekolah dan membersihkan lingkungan sekitar.
Dan perilaku gotong royong ini sangat kental terlihat manakala dalam satu daerah atau desa yang hanya memiliki satu tingkat sekolah, misalnya SD/MI. Warga desa serta keluarga besar sekolah tersebut akan muncul rasa memiliki sekolah ini. Dampaknya, mereka dengan sukarela membantu sekolah ketika akan menambah fasilitas pendidikan yang diperlukan untuk kemajuan pendidikan murid-muridnya. Bahu membahu, gotong royong membangun sekolah tanpa ada imbalannya karena mereka menyadari bila sekolah ini lengkap sarana prasarananya maka akan dengan baik melayani kebutuhan pendidikan untuk anak-anaknya. YUS

Menengok Rumah Pintar Sativa Krian: Enjoy, Belajar di Teras Rumah


Proses belajar mengajar di teras rumah warga, enjoy aja.


Para tutor RPS

Astaga, apa yang sedang terjadi, Astaga…Hendak kemana semua ini
Bila kaum muda sudah tak mau lagi peduli
Mudah putus asa dan kehilangan arah…sepenggal syair lagu Astaga yang dilantunkan Ruth Sahanaya ini melecut generasi muda desa Keboharan Krian. Heeemmm…apa yang sudah dilakukan oleh penerus tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini?
Ada sekumpulan remaja yang berinisiatif memberikan tambahan belajar pada adik-adiknya terutama yang masih bersekolah di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. “Hanya ini yang bisa kami berikan ke desa kami tercinta. Sedikit pengetahuan dan ilmu akan kami berikan ke adik-adik kami,” kata M. Asy’aril Muhajir salah seorang penggagas program tambahan belajar ini di desa Keboharan.
Program ini mereka namakan study club Rumah Pintar Sativa (RPS) dengan memakai nama Sativa diambil dari bahasa latin yang artinya "PADI". “Kenapa kok padi? Karena padi mempunyai filosofi orang yang banyak ilmunya harus merunduk, merendah atau tawaddu' berbudi luhur, singkat kata mencetak generasi muda yang berilmu, berkarakter dan kreatif, “ urai alumnus IAIN Sunan Ampel Surabaya jurusan sosial Islam ini pada PENA.
Tak salah mereka menamakan study club ini dengan Rumah Pintar Sativa karena selain memberikan tambahan belajar bagi siswa SD dan SMP juga memberi bekal motivasi serta pengetahuan tentang alam lingkungan. “Acara pemberian motivasi dan pengenalan alam lingkungan ini kami lakukan secara berkala agar ilmunya berkesinambungan. Terutama menjelang ujian kami akan memberikan motivasi dengan porsi yang lebih banyak,” ujar bujangan yang juga bekerja di sebuah yayasan panti asuhan di Surabaya.
Adapun jam belajar yang diberlakukan di RPS ini diluar jam belajar mereka di sekolah yakni 15.30 – 17.00 dan 18.00 – 19.30 setiap hari Senin hingga Jumat. Sabtu dan Minggu libur, walau libur hari Minggu ada program Minggu ceria yakni setiap hari Minggu ada acara bersih-bersih lingkungan, senam bersama ataupun jalan-jalan.
“Soal biaya yang digunakan untuk acara Minggu ceria ini adalah dari iuran yang dikenakan pada setiap peserta yakni seribu rupiah setiap hadir. Dari uang inilah kami bisa mengadakan kegiatan yang sifatnya rekreatif. Dan kami usahakan tidak akan ada biaya tambahan,” ujar Aril.
Jumlah peserta belajar di tingkat SD ada 18 anak dan 15 anak tingkat SMP dengan dibimbing tutor aktif sebanyak 12 orang. Dari 12 orang tutor ini ada yang sudah bergelar sarjana, mahasiswa juga pelajar SMA.
Sentra Joglo
Dengan memakai sistem belajar setiap lima siswa dibimbing oleh seorang tutor. Ini dimaksudkan agar pelaksanaannya lebih terarah sehingga efektivitas hasil belajar dapat tercapai. Selain itu, metode belajar yang digunakan adalah metode belajar yang efektif dan solutif menyelesaikan permasalahan soal-soal dengan kemampuan kognitif peserta.
Tahun 2011 RPS bekerja sama dengan PNPM Mandiri desa Keboharan menyelenggarakan pendampingan belajar untuk 104 anak dari keluarga prasejahtera.
Selama ini tempat belajar RPS berada disebuah panggung yang berupa bangunan joglo (sentra joglo) berukuran 4 x 6 m. “Ke depannya kami akan berusaha untuk memenuhi sentra baca, computer, kriya dan APE yang bersifat swadaya,” urai M. Asy’aril Muhajir yang biasa akrab dipanggil Aril ini.
Karena keterbatasan tempat belajar inilah, tak jarang mereka harus belajar di teras rumah warga sekitar joglo ataupun di ruang tamunya. Selain keterbatasan tempat juga peralatan penunjang program study club ini dengan hanya memiliki seperangkat computer, printer, buku serta beberapa ATK lainnya. “Peralatan ini semua adalah bentuk dukungan LPM Universitas Negeri Malang kepada kami,” ungkap Aril tentang sarana prasaran yang dimiliki RPS.
Ketika ditanya soal besarnya honor tutor, Aril dengan senyum khasnya menjawab,”Ya semua kita syukuri aja berapapun besarnya yang penting barokah.” YUS



Profil Rumah Pintar Sativa
Nama Organisasi : RUMAH PINTAR SATIVA
Tempat/tanggal berdiri : Keboharan, 05 Desember 2009
Alamat dusun Kanigoro, RT 10, RW 03, Keboharan, Krian, Sidoarjo.
Contact : 031-8983840
motto RPS, ”One Stop Creativity”.
Visi : Mewujudkan community development Desa Keboharan melalui program pemberdayaan pendidikan bagi generasi muda
Misi :Menjadi garda depan wadah aktualisasi bagi generasi muda dalam bidang penidikan
Menjadi pioner pembentukan klub-klub sejenis yang berorientasi sosial kemasyarakatan dalam bidang pendidikan.
Memberikan beberapa program pendidikan, pelatihan keterampilan, dan fasilitas penunjang yang dapat diakses oleh semua kalangan Desa Keboharan
Tutor: berjumlah 12 orang yang aktif (Moh. Syihabuddin Faqih, Rastra Amirotul Haque, Wilda nas Firdaus, Agus Imam Bayhaqi, M. Asy’aril Muhajir, Moch Ali Mashuri, Siti Rochimah, Nurul Ilmiah, Lailatul Komariyah, Nurul Hidayati, Uhcfia Asriadi, Akhmad Bakhrul Fauzi)

Rabu, 18 April 2012

Dimensi Cinta


Cinta merupakan salah satu aspek psikologis. Dia termasuk salah satu dimensi dari perasaan (emosi) dasar manusia (suka, senang, benci, cinta, jijit, dan bahagia). Tetapi, menurut Izard (dalam Strongman, 1998), cinta dapat mendatangkan segala jenis emosi, baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan.
Menurut Stenberg, dalam sebuah teorinya mengemukakan bahwa cinta memiliki tiga dimensi dasar, yaitu hasrat (passion), keintiman (intimacy), dan komitment/keputusan (commitment/decision).
Hasrat
Dimensi ini menekankan pada intensnya perasaan serta perasaan (keterbangkitan) yang muncul dari daya tarik fisik dan daya tarik seksual. Pada cinta jenis ini, seseorang mengalami ketertarikan fisik secara nyata, selalu memikirkan orang yang dicintainya sepanjang waktu, melakukan kontak mata secara intens saat bertemu, mengalami perasaan indah serta melambung ke awan, mengagumi dan terpesona dengan pasangan, detak jantung meningkat, mengalami perasaan sejahtera, ingin selalu bersama pasangan yang dicintai, memiliki energy yang besar untuk melakukan sesuatu demi pasangan mereka, merasakan adanya kesamaan dalam banyak hal, serta tentu saja merasa sangat berbahagia.
Keintiman
Dimensi ini tertuju pada kedekatan perasaan antara dua orang dan kekuatannya yang mengikat mereka untuk bersama. Sebuah hubungan akan mencapai keintiman emosional jika kedua pihak saling mengerti, terbuka, dan saling mendukung, serta bisa berbicara apa pun tanpa merasa takut ditolak. Mereka mampu untuk saling memaafkan dan menerima, khususnya ketika mereka tidak sependapat atau berbuat kesalahan.
Komitmen/Keputusan
Pada dimensi komitmen/keputusan, seseorang berkeputusan untuk tetap bersama dengan seorang pasangan dalam hidupnya. Komitmen dapat bermakna mencurahkan perhatian, melakukan sesuatu untuk menjaga suatu hubungan tetap langgeng, melindungi hubungan tersebut dari bahaya, serta memperbaiki bila hubungan dalam keadaan kritis.
Dimensi-dimensi diatas adalah dimensi dasar penyusun rasa cinta. Antara hasrat, keintiman dan komitment/keputusan adalah sebuah bentuk aplikasi cinta yang sempurna menurut Stenberg. Kehilangan salah satu dimensinya, akan mengurangi esensi dari cinta itu sendiri.