![]() |
Drs. Amiruddin, M.Pd.I |
Kegiatan
pramuka yang selama ini diajarkan di sekolah-sekolah ke anak didiknya seolah
hanya berlatih tepuk tangan, menyanyi dan tali temali. Anggapan yang demikian
ini kerap mengakibatkan penolakan orang tua siswa bila anaknya minta ijin
mengikuti kegiatan kepramukaan.
Dengan
berbagai macam dalih, orang tua seringkali melarang anaknya untuk ikut
aktif berlatih pramuka karena mengikuti
kegiatan pramuka tiada guna manfaatnya. Secara fakta, ada sebagian Pembina
pramuka yang hanya sekedar mengajarkan ke adik-adik bimbingannya menyanyi,
tepuk tangan dan tali temali. Materi kegiatan yang monoton dan tidak mengikuti
perkembangan jaman atau tidak up to date
inilah yang menjadikan kegiatan pramuka perlahan-lahan mulai ditinggal
peminatnya.
Banyak
faktor yang melatarbelakangi tapi ada satu hal yang patut dicermati dan diberi
perhatian khusus yakni kemampuan Pembina yang langsung berhadapan dengan siswa
atau adik-adiknya. Selama ini, pramuka yang aktif berlatih hingga tingkat
penggalang atau penegak, seringkali menjadi Pembina bagi adik-adiknya di
tingkat siaga.
Materi
yang diberikan ke adik-adik siaga adalah materi yang selama ini mereka terima
dari pembinanya bukan dari pelatihan atau kursus mahir. Karena merasa diri
mampu untuk menularkan pengetahuannya maka mereka berani memberikan pembinaan
pramuka di tingkat siaga.
Keadaan
ini ditunjang oleh ketidakpedulian Kamabigus atau Kepala Sekolah yang
bersangkutan terhadap keberadaan kegiatan pramuka di sekolah yang dipimpinnya.
Dan yang terjadi, pembina pramuka ini diangkat tidak dari kalangan pramuka yang
sudah terdidik melainkan asal comot. Guru yang jam mengajarnya kurang,
seringkali ditunjuk sebagai Pembina pramuka.
Kalaupun
dari kalangan pramuka tetapi kalau tidak pernah mengikuti pelatihan atau kursus
mahir maka kemampuan kepramukaannya tidak akan berkembang. Apalagi menjelang
kurikulum 2013 nanti yang rencananya pramuka masuk menjadi mapel ataupun
ekstrakurikuler yang wajib, tidak semua sekolah akan menjadi gugus depan
(gudep).
Mengingat
kedepannya, pramuka ini akan diadakan akreditasi dan sertifikasi. Akreditasi
ini berhubungan dengan pangkalan dimana pramuka ini ada yakni sekolah sebagai
gugus depan. Serta adanya sertifikasi Pembina, penguasaan ketrampilan
kepramukaan saja belum bisa diakui sebagai Pembina yang professional kalau
belum mendapat pengakuan secara formal dari pengurus kwarnas.
Akreditasi
gudep dan sertifikasi Pembina inipun menggunakan bantuan teknologi canggih atau
berbasis IT. Sehingga diharapkan, sebagai seorang Pembina pramuka bukan sekedar
menguasai ketrampilan kepramukaan saja melainkan juga menguasai IT. Seorang
Pembina pramuka bukan hanya mengajarkan tepuk tangan, menyanyi ataupun tali
temali tetapi juga bisa menghadirkan suatu pembinaan pramuka yang baru. Bisa
menggunakan power point ketika memberikan pembinaan ke adik-adiknya.
Gairah
untuk selalu memperbaiki metode pembinaan pramuka juga harus selalu dilakukan
Pembina. Diantaranya dengan melalui forum musyawarah pembina yang disebut
karang pamitran dan forum musyawarah pelatih yang bernama pitaran pelatih. Juga
yang tak kalah pentingnya yakni dengan melakukan regenerasi pembina dan
pelatih.
Kesemua
upaya ini diharapkan akan bisa meningkatkan minat siswa terhadap kegiatan pramuka
dan lebih efektif serta berdayaguna. YUS