Selasa, 29 Maret 2011

Laput : Drs. H. M. Subqi Manan, M.Si, Kepala SMPN 1 Waru: Memunculkan Sekolah SSN Inovasi



Keberadaan RSBI dan SBI yang dalam beberapa waktu terakhir menjadi polemik antara langsung dihapuskan atau dikaji ulang terlebih dahulu, sangat menarik untuk dibahas. Secara ideal, RSBI itu harus ada di tiap daerah dengan catatan jumlahnya dibatasi.
Jumlah yang dibatasi ini agar hasilnya kredibel, tentu saja ini semua disesuaikan dengan system yang berlaku di daerah tersebut. Juga adanya perekrutan SDM yang dimasukkan dalam RSBI, bukan hanya siswanya tapi kepala sekolah, guru dan karyawan semuanya harus levelnya global.
Apa jadinya kalau siswanya sudah pandai berbahasa Inggris sedangkan gurunya masih berwawasan lokal? Pertama kali memasuki sekolah RSBI nuansanya sudah global ini harus kentara sekali.
Untuk itulah diperlukan seleksi khusus bagi kepala sekolah, guru, karyawan dan siswa yang akan masuk di RSBI ini. Syarat ini harus dipenuhi agar tidak terjadi pengeluaran yang tidak seimbang dengan hasil yang dimunculkan.
Andaikata sekolah belum memenuhi kriteria untuk sekolah RSBI maka sekolah yang SSN ini harus benar-benar mengadakan inovasi dalam segala hal. Seperti yang dilakukan di SMPN 1 Waru dengan membuka kelas bilingual sebanyak tiga lokal. Di kelas ini nuansanya sudah mendekati global dan jauh-jauh hari yang namanya tutor sebaya sudah dilaksanakan.
Siswa sudah diajarkan untuk saling memberi informasi tentang pelajaran mana yang mengalami kesulitan. Tidak diajarkan sifat egois tapi kooperatif, karena mereka saling berinteraksi satu sama lainnya. Bila mengalami titik buntu maka peran guru sebagai pembimbing dimaksimalkan.
Sekolah SSN dengan nilai plus juga diterapkan melalui pembiasaan-pembiasaan siswa setelah jam belajar sekolah selesai. Yakni berupa kegiatan pengembangan diri. Misalnya ada waktu untuk mempelajari jurnalistik, KIR, hingga kegiatan keagamaan yang dilakukan oleh siswa. Hasil yang didapat dari kegiatan ini, baik atau tidaknya, masayarakat yang menilai. Siswa ada kemajuan yang berarti atau tidak sebelum dan sesudah melakukan pembiasaan ini. Dengan kata lain, sekolah dikatakan punya nilai plus apabila hasilnya bisa dirasakan masyarakat dan masyarakatlah yang menilainya.
Selain siswa, guru juga melakukan pembiasaan yang dilakukan setiap hari Sabtu. Setelah senam pagi hari, lalu diadakan MGMPS, ada rapat dinas, hingga pelatihan pengembangan IT. Jadi untuk menuju sekolah yang punya nilai plus, keterkaitan semua pihak, kepala sekolah, guru, karyawan dan siswa harus ada dan semua harus berjalan seiring sejalan.
Caption: Drs. H. M. Subqi Manan, M.Si (foto:YUS)

Senin, 28 Maret 2011

Budaya: Geguritan dan Parikan Oleh: Yupiter Sulifan, Guru BK SMAN I Taman

Pengantar redaksi: Disela melaksanakan tugas dan tanggungjawab sebagai seorang guru pembimbing di SMA Negeri 1 Taman, Yupiter Sulifan masih menyempatkan menggoreskan pena untuk membuat puisi bahasa Jawa.
Diakui sendiri walau goresannya ini masih jauh dari yang namanya geguritan Jawa yang sesungguhnya, setidaknya Yupiter sudah berusaha mencoba melestarikan warisan budaya nenek moyangnya. “Jangan sampai warisan budaya ini diaku-aku oleh Negara lain sebagai miliknya. Walau kenyataannya masih banyak generasi muda yang asing dengan geguritan Jawa namun bukan berarti hal ini sebagai kendala untuk mengenalkannya pada mereka. “Yo, sak isok-isok-e nggurit penting ora lali marang kabudayan leluhur kang adi luhung,” ujar guru yang berdomisili di kawasan pertambakan Waru.
Kenyataan, salah satu karya Yupiter pada tahun 2010 lalu tepatnya saat peringatan HUT kabupaten Sidoarjo, yang berupa parikan/kidungan meraih juara 2 di lomba Kidung Jula Juli HUT Sidoarjo 2010 di Dispora Sidoarjo. Berikut ini beberapa karya Yupiter Sulifan :

1. Kidungan Jula Juli Sidoarjo-an

Suroboyo kutho pahlawan
Sidoarjo daerah pertambak-an
Dadi pelajar ojok seneng tawuran
Mergo tawuran iku koncone setan.
Setan mono panggone neroko.
Tuku rambutan rasane manis
Sing parikan rupane manis.

Sidoarjo, nduweni julukan kota Delta
Deltane kali Brantas
Tanah-e subur, makmur loh jinawi
Toto tentrem kerto raharjo.

Asile pertanian, akeh macem-e
Onok pari, onok tebune
Asile tambak ugo akeh jenise
Urang windu, bandeng iku unggulane.

Sejene iku ugo akeh pabrik-e
Ojok lali karo lumpur panas-e.
Senajan sedih tapi onok hikmah-e
Saiki rame dadi obyek wisata-e.

Mulane dulur podho gedhe syukur-e
Ojok sedih opo sumpek pikir-e
Kerja keras ojok lali dongane
Supoyo Gusti nambahi rejekine.

“Monggo parikan dangdutan parikeno, tariiik Guuk!”

Telu siji wulane Januari
Tanggal Masehi aku gak bakal lali
Tanggal kramat Sidoarjo berhikmad
Monggo dulur ayo bersemangat.

Semangat, semangat empat lima
Kanggo mbangun kabupaten tercinta
Warga Delta kabeh jangan lupa
Mbayar pajek kanggo kota tercinta.

Cinta, cinta setengah mati
Cinta kota koyok cinta kekasih
Kekasih ilang ati menjadi sedih
Adipura ilang bikin malu diri.

Diri, diri awakku dhewe
Wong sik enom senengane main gaple
Main gaple sinambi mangan dele
Koncoku nangis mergo tak cokot anune.

“Sik! ojok ngeres, dulur, iku lho udele duduk anune liyane, mulo dulur ojok tiru kelakuanku iki sing senengane main gaple. Mending sing kecokot udele lha nek kecekel pulisi, tambah ngisin-ngisini ae..Guk!”

Yuk Painten ngeloni ulo
Cekap semanten kidungan kulo.

(Waru lingsir wengi, 2010)
(Kidungan/parikan ini meraih juara 2 dalam lomba Kidung Jula Juli HUT Sidoarjo 2010 di Dispora Sidoarjo)


2. Geguritan: Harga Diri

Ajining diri manungsa,
Tan gumantung saka kapribadianne.
Andhap asor, jujur lan tutur luhur,
Iku kang utama.
Dudu banda donya,
Opo emas picis mahewu-ewu,
Nalikane memelas,
Manungsa hamung bisa lungkrah,
Duh! Gusti,
Yen mati mung tilar nami.

(Kedungrejo Waru, 2008)


3. Geguritan: Critane Manuk Grejo

Ono manuk grejo sajodho,
Andhum katresnan sadhuwure joglo.

Mabur mangulon,
Mung tinemu paralon.
Mabur mangetan,
Ora ono tanduran pari ketan.
Mabur ngidul,
Jebul hutane wis gundul.
Mabur ngalor,
Ora katon wit kelor.

Ono manuk grejo sajodho,

Menclok nang jagrak,
Malah nemu karak.
Mergo weteng kaliren,
Karak meksa mlebu weteng.
Weteng durung kebak,
Dumadakan sing nduwe ngoyak.
Menyang sawah ono pari,
Sih sedela nyisili pari,
Banjur diusir pak tani.

Manuk grejo sajodho bisane mlongo,
Eling susuhe ing wit sono.

Arep mabur, mak plak!
Pungkasane manuk grejo sajodho neblak.
Dudu kena peluru pemburu,
Opo dibedhil pak polisi,
Nanging mati mergo asap polusi.

Manuk grejo sajodho,
Mung ninggal susuh ing wit sono.

(Tambaksumur-Waru, Maret 2011)

Lensa PENA: Meniti Sekolah



Pemandangan seperti sudah biasa terjadi di SMAN 1 Taman, setiap selesai hujan dipastikan air meluber hingga ke ruang-ruang kelas dan ruang guru. Walau hanya tingginya 15 cm masih tetap namanya banjir dan untuk menuju ruang kelas, guru dan siswa harus meniti jembatan bata. Pindah atau ‘tenggelam’? (foto: Yupiter Sulifan)

Dinamika: SMPN 2 Taman Jawara OSN



Sudah menjadi tekad dikalangan pendidik SMPN 2 Taman bahwa prestasi siswa baik akademis maupun non akademis harus ditingkatkan. Segala potensi yang ada pada diri siswa terus digali dan dikembangkan.
Berbagai usaha dilakukan untuk mengantarkan siswanya sukses. Hasil yang dicapai pun sangat memuaskan. Terutama di bidang sains, sekolah yang berada di kawasan Jemundo Taman ini bisa dibilang jawara Olimpiade Sains Nasional (OSN).
Sejak tahun 2007 hingga 2011, siswanya selalu meraih juara dalam setiap olimpiade sains yang diadakan berbagai lembaga. Tahun 2007 juara 1Olimpiade Fisika se-Sidoarjo, tahun 2008 juara 2 Olimpiade Fisika se-Sidoarjo, dikejuaraan yang sama tahun 2009 sekolah ini memborong juara 1, 2 dan 3.
Juara 3 Olimpiade Fisika se-Jawa di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan juara 3 kuis fisika se-Jawa Timur di Unair tahun 2009. Juara 1 Olimpiade Biologi se-kabupaten Sidoarjo sejak 2008 hingga 2009. Juara 1 Olimpiade Matematika se – Sidoarjo 2009 dan juara 1 Olimpiade Sains dan Matematika 2009.
Prestasi yang baru saja diukir pada 27 Februari 2011 sebagai juara umum yakni; juara 1, 2 dan 3 di Olimpiade Sains dan Matematika tingkat Sidoarjo, Surabaya dan Gresik yang diadakan di SMA Wachid Hasyim Taman.
“Semua ini berkat minat dan kesungguhan siswa dalam menekuni pelajaran sains dan matematika tanpa itu saya rasa mustahil anak-anak bisa mencapai prestasi seperti ini,” ujar Drs. U. Syaiful Amien selaku Pembina OSN dan Kaur Kesiswaan SMPN 2 Taman. Selain itu juga hasil dari bimbingan guru yang diadakan pembinaan tiga kali selama seminggu.
Melihat anak didiknya berprestasi serta minta yang besar di berbagai bidang ilmu, Drs. H. Achmad Zainul Afani, M.Pd., Kepala SMPN 2 Taman sangat bangga. Kebanggaan ini diwujudkannya dengan memberikan akses internet gratis, melengkapi sarana prasarana yang dibutuhkan siswa serta memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada guru untuk menimba ilmu, menambah wawasan melalui seminar, workshop, ataupun pelatihan-pelatihan. YUS
Caption: Drs. U. Syaiful Amien, Pembina OSN SMPN 2 Taman diantara jawara OSN hasil binaannya. (foto:YUS)

Dinamika: Revolusi Belajar dan Motivation Training



Dihadiri sekitar 300 siswa dari berbagai sekolah menengah atas negeri dan swasta di Sidoarjo, seminar tentang Revolusi Belajar dan Motivation Training berlangsung semarak. Bertempat di gedung serba guna Rahmatul Ummah An-Nahdliyah Sidoarjo tanggal 27 Maret 2011, seminar yang membahas tentang trik-trik belajar cepat dan tepat ini menghadirkan pembicara tunggal Ir. Elbisker, MM.,MBA., pakar pendidikan nasional dan praktisi pembelajaran menggunakan otak kanan.
Dalam materinya, Elbisker menyampaikan bahwa selama ini banyak pelajar yang belajar hanya memanfaatkan otak kiri. “Padahal fungsi otak kanan itu untuk menyimpan ingatan dalam jangka panjang tapi kalau otak kiri hanya untuk ingatan jangka pendek. Tak heran kalau bertemu dengan teman lama, kita ingat wajah tapi lupa nama. Mengapa hal ini tidak diterapkan dalam hal belajar?” papar Elbisker yang juga seorang motivator ini pada peserta seminar yang didominasi pelajar kelas XI SMA ini.
Seminar yang diadakan oleh pusat bimbingan belajar Ganesa Operation ini diakhir acara memberikan buku kumpulan soal dan pembahasan UN serta doorprize handphone kepada setiap peserta yang hadir. YUS
Caption: Ir. Elbisker, MM., MBA., ketika menyampaikan materi seminar dihadapan peserta yang hadir. (foto: YUS)

Prestasi Olah Raga: Panji ‘Pendekar’ SMPN 2 Waru: Jadi TNI Ingin Bela Negara



Sepintas melihat sosok remaja yang satu ini kita tak bakal menyangka kalau dia adalah ‘pendekar’ karate tingkat nasional. Adalah Panji Ari Prayogo, cowok kelahiran Blitar tepatnya 30 Juli 1996 lalu ini sejak SD kelas 5 menekuni seni beladiri karate. “Waktu itu ayah mendaftarkan saya untuk ikut latihan karate di Surabaya, katanya untuk jaga diri belajar karate ini,” tutur Panji, sapaan akrabnya saat diwawancarai PENA didampingi Kaur Kesiswaan SMPN 2 Waru, Sugiyono, S.Pd.
Panji yang sekarang ini kelas IX G di SMPN 2 Waru adalah putra ke dua dari tiga bersaudara terlahir dari ayah Sumari dan ibu Yuni Arihayati. Dalam seminggu Panji berlatih karate selama tiga kali di Dojo Forki Kertajaya Surabaya. Dari hasil berlatih kerasnya ini, tak berlebihan kalau Panji berhasil meraih puluhan juara dalam berbagai pertandingan.
Juara I kumite perorangan putra O2SN tingkat kabupaten 2010, juara I kumite perorangan cadet putra piala Walikota Kediri tingkat provinsi 2010. Juara 2 kumite perseorangan 45 kg putra piala DanMenbanpur 1 Marinir 2010, juara 2 kata perseorangan putra O2SN tingkat kabupaten, juara 2 kata perseorangan putra O2SN tingkat provinsi 2010. Juara 3 kumite perseorangan cadet 52 kg putra tingkat se-Jawa Bali piala Kapolres Tuban 2010 dan juara 3 POPDA tingkat kabupaten Sidoarjo kata perseorangan 2010.
Ketika ditanya cita-cita cowok yang bermukim di gang Abdul Karim RT01 RW08 Tambakrejo Waru ini dengan lugas menjawab,”Jadi TNI!” Mengapa? “Saya ingin membela bangsa dan Negara Indonesia tercinta bila terancam bahaya,”jawabnya singkat. “Setiap siswa kami yang berprestasi ataupun yang belum, selalu kami dukung sepenuhnya untuk kemajuan dan kesuksesan mereka,” ujar Drs. H. Hariono,MM., selaku kepala SMPN 2 Waru pada PENA. YUS
Caption: Drs. H. Hariono, MM., Kepala SMPN 2 Waru (kiri) dan Sugiyono, S.Pd., Kaur Kesiswaan (kanan) mendampingi Panji Ari Prayogo. (foto:YUS)

Komentar: Drs. Hamzah, M.Pd., MM., Tim Litbang SMAN 1 Taman : Wujudkan Generasi Ahsani Taqwim



Adanya sembilan pilar karakter pendidikan yang digagas dalam Rembuk Nasional Pendidikan (RNP) diantaranya, cinta Tuhan dan ciptaan-Nya, tanggung jawab, kedisiplinan dan kemandirian, kejujuran, amanah dan diplomatis, hormat dan santun, kasih sayang, kepedulian dan kerja sama memang sangat baik yang masih perlu dipertahankan dan harus diusahakan.
Karena, dengan karakter-karakter tersebut dapat diciptakan atau dimungkinkan terwujudnya generasi yang utuh dan baik (Ahsani taqwim) dan ini merupakan tujuan pendidikan nasional. Namun, kalau ditinjau dari keberhasilannya masih jauh. Andaikan kita mau jujur dan andaikan kita mau pula sepintas menggunakan asumsi sekilas analisis SWOT maka keberhasilan itu atau karakter yang diinginkan tersebut hanya tercapai pada angka enam.
Dan ini sudah berjalan sejak lama yaitu ketika pergantian beberapa presiden dan menteri hingga saat ini yang mulai diwacanakan serta dikembangkan lagi. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan pendidikan di Indonesia hanya berjalan di tempat serta belum dapat menghasilkan generasi penerus bangsa yang handal dan berakhlaq mulia.
Bila kondisi pendidikan di Indonesia masih seperti ini maka tidak akan pernah menjadi bangsa yang besar dan dapat diperhitungkan lagi diakui dunia. Selain itu kita tidak akan memiliki jati diri bangsa sebagaimana layaknya karakter dan budaya bangsa.
Masa depan keunggulan dan kemajuan dunia ini hanya dapat diwujudkan oleh bangsa-bangsa yang memiliki, memegang teguh karakter dan budaya masing-masing. Kondisi pengembangan karakter bangsa sampai saat ini bagaikan mengambil mutiara dalam lumpur, mengapa demikian? Karena langkah awal bangsa Indonesia didalam mengembangkan kebijakan dalam pendidikan masih tataran operasional. Kebijakan yang diambil seringkali kurang tepat dan kebijakannya seringkali hasil dari kebijakan masa lalu.
Namun bagi kita sebagai bangsa yang ingin maju, tidak ada kata terlambat dalam berusaha untuk tetap membangun bangsa Indonesia walaupun kiamat kurang satu hari. Dalam pemikiran saya, ada beberapa langkah taktis yang harus dilakukan untuk memperkokoh sembilan pilar karakter pendidikan guna mencapai tujuan pendidikan nasional, diantaranya: diadakan sistem dan kebijakan, perlunya perubahan birokrasi dalam pendidikan, terus mengembangkan SDM, selalu meningkatkan kesejahtraan guru, seleksi budaya dari luar negeri serta mempertahankan karakter dan budaya bangsa melalui pemantapan pelajaran agama/budi pekerti, PKn, serta hukum sejak dini.
Niscaya kalau hal ini dilakukan akan tercipta kemajuan pendidikan yang gemilang. YUS
Caption: Drs. Hamzah, M.Pd., MM. (foto:YUS)